Sumsel

Harga Minyak Dunia Menguat Nyaris Tembus USD 95 per Barel Usai AS Serang Iran Lagi

Septiyanti Dwi Cahyani | 3 September 2026, 11:46 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Nyaris Tembus USD 95 per Barel Usai AS Serang Iran Lagi
Ilustrasi harga minyak dunia naik

AKURAT.CO SUMSEL - Harga minyak mentah dunia terus mengalami fluktuasi sejak pecah perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran pada akhir Februari lalu.

Pada level tertinggi, harga minyak mentah dunia bahkan pernah melampaui USD 100 dolar per barel.

Kondisi ini memicu kekhawatiran global akan ancaman krisis energi global.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.694 per Dolar AS pada Perdagangan Kamis

Terbaru, harga minyak dunia dilaporkan naik sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (2/9/2026) waktu setempat atau Kamis (3/9/2026) pagi WIB.

Kenaikan terjadi di tengah memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas setelah AS melancarkan serangan ke sebuah acara pernikahan warga sipil di Sirik, Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 98 sen AS atau 1 persen menjadi 95,63 dollar AS per barrel.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Pengabdi Setan 3 yang Tayang 2027, Sudah Masuk Tahap Produksi

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 79 sen AS atau 0,9 persen menjadi 91,01 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS menyelesaikan serangkaian serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Selasa.

Berdasarkan pernyataan Komando Pusat AS atau Centcom, serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas, termasuk pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, kemampuan peletakan ranjau, serta situs komunikasi.

Baca Juga: Pelukan Hangat Desta dan Vincent Rompies, Ada Pesan Haru di Balik Mundurnya dari Vindes Corp

Iran kemudian memberikan respons. Menurut media pemerintah Iran, Garda Revolusioner menyatakan telah menargetkan posisi militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Uni Emirat Arab sebagai tindakan balasan.

Pertempuran antara AS dan Iran kembali pecah untuk pertama kalinya sejak Juli.

Washington berupaya melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal serta mengganggu lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina Non Subsidi Naik Lagi per 2 September 2026, Ini Rincian Terbarunya

Arus minyak melalui Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama pasar. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lebih dari 17 juta barel minyak melewati jalur tersebut.

Jumlah itu menjadi rekor sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari melewati Selat Hormuz.

Baca Juga: Catat Tanggalnya, Ini 12 Daftar Agenda Pemerintah Kota Palembang September 2026

Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasar energi dan harga minyak global.

Harga minyak AS sendiri telah meningkat sekitar 9% sepanjang pekan ini. Pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap ekspor minyak mentah dari Timur Tengah setelah permusuhan antara AS dan Iran meningkat.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan belum berminat membuka kembali perundingan dengan Iran.

Baca Juga: Inflasi Sumsel Agustus 2026 Capai 2,60 Persen, Harga Emas hingga Beras Jadi Pemicu

Pemerintah AS justru mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui blokade angkatan laut serta perluasan kampanye sanksi.

Perkembangan konflik AS-Iran selanjutnya menjadi perhatian pelaku pasar karena risiko gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan minyak sekaligus meningkatkan ketidakpastian harga energi global. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.