AS Ancam Tingkatkan Sanksi Ekonomi Terhadap Iran, 5 Sektor Ini Jadi Sasaran
AKURAT. CO SUMSEL - Donald Trump kembali mengubah strategi perang dengan Iran.
Alih-alih meningkatkan serangan militer, presiden Amerika Serikat itu kini memilih memberi sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Teheran.
Bukan hanya Iran, ancaman tersebut juga berlaku bagi negara-negara pendukung Teheran.
Baca Juga: Regulasi Ekonomi Digital Harus Adaptif, Misbakhun: Jangan Mematikan Inovasi
Apa Saja Sanksi Ekonomi AS Terhadap Iran?
Amerika Serikat memberlakukan sanksi ekonomi luas untuk mengisolasi Iran dan memutus jaringan keuangan serta jalur perdagangan internasional negara tersebut. Sektor utama yang disasar meliputi:
Sektor Energi dan Minyak: Embargo ketat pada ekspor minyak mentah dan produk petrokimia Iran.
Baca Juga: Komentari Knalpot Brong, Remaja Perempuan di Palembang Diduga Dijambak dan Ditendang
Jaringan Keuangan (Shadow Banking): Penindakan terhadap perbankan tidak resmi, perusahaan cangkang, dan tempat penukaran uang.
Sektor Baru (Operasi Pengucilan Ekonomi): Perluasan sanksi sekunder yang menyasar aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
Mitra Dagang: Ancaman sanksi bagi entitas atau negara pihak ketiga yang tetap memfasilitasi transaksi atau perdagangan dengan Iran.
Baca Juga: Beli Samsung Galaxy A17 5G di Facebook Marketplace Rp2,2 Juta, Warga Banyuasin Kena Tipu
Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, Senin (24/8/2026), mengatakan sanksi baru AS terhadap Iran berfokus pada lima sektor utama ekonomi.
Seperti penerbangan, pelayaran, teknologi, emas, dan aset digital.
Dia menambahkan bahwa Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal terkait Iran.
Baca Juga: Kasus ISPA Palembang Tembus Ribuan, Dinkes Ingatkan Warga Waspadai Asap Karhutla
Iran di Ambang Krisis Besar
Kondisi ekonomi Iran saat ini mengalami tekanan berat akibat pelemahan mata uang yang parah, lonjakan inflasi, serta sanksi internasional yang semakin ketat.
Nilai tukar mata uang rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang masa, menembus kisaran dua juta rial per dolar AS.
Baca Juga: Dijanjikan 2 Anak Lolos ASN Kemenkumham dan Kejaksaan, Pasutri Palembang Rugi Rp1,03 Miliar
Inflasi diproyeksikan melonjak tinggi menjelang akhir tahun akibat gangguan rantai pasok dan biaya impor yang mahal.
Masyarakat mulai menghadapi masalah kekurangan bahan bakar, pemadaman listrik bergilir di tengah cuaca panas, serta lonjakan harga kebutuhan pokok.
Sebagian besar kelas menengah dan pekerja semakin terhimpit oleh kenaikan biaya hidup. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









