Sumsel

NTN Nelayan Sumsel Turun 0,33 Persen, Harga Gabus hingga Belut Anjlok

Kurnia | 10 September 2026, 21:00 WIB
NTN Nelayan Sumsel Turun 0,33 Persen, Harga Gabus hingga Belut Anjlok
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor peternakan di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami peningkatan pada Agustus 2026. Kenaikannya mencapai 0,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima peternak (It) meningkat 0,95 persen, sementara indeks harga yang dibayar peternak (Ib) hanya naik 0,05 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, kenaikan It terutama didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas peternakan.

Kelompok unggas, khususnya ayam ras pedaging, menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan kenaikan harga sebesar 2,08 persen.

Selain itu, harga pada kelompok hasil ternak, terutama telur ayam ras, juga meningkat 0,16 persen. Sementara harga ternak besar, khususnya sapi potong, naik 0,04 persen.

Di sisi lain, harga komoditas pada kelompok ternak kecil, khususnya kambing, justru mengalami penurunan sebesar 0,18 persen.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga yang diterima peternak lebih tinggi dibandingkan peningkatan biaya yang harus dikeluarkan.

Pada Agustus 2026, Ib subsektor peternakan tercatat naik tipis 0,05 persen, dari 130,37 menjadi 130,44.

Kenaikan biaya tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga sebesar 0,01 persen dan biaya produksi serta penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,09 persen.

Baca Juga: Harga Karet Sumsel Melonjak Rp2.517 per Kg dalam Dua Hari, Tembus Rp43.650

Kondisi berbeda terjadi pada subsektor perikanan. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) pada Agustus 2026 tercatat turun 0,10 persen.

Penurunan itu terjadi karena indeks harga yang diterima pelaku usaha perikanan hanya meningkat 0,13 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar naik lebih tinggi, yakni 0,23 persen.

Kenaikan It pada subsektor perikanan terutama berasal dari kelompok perikanan budidaya yang naik 0,66 persen. Sebaliknya, harga pada perikanan tangkap turun 0,20 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, Ib naik 0,23 persen. Kenaikan tersebut berasal dari peningkatan harga kebutuhan konsumsi rumah tangga sebesar 0,06 persen dan biaya produksi serta penambahan barang modal sebesar 0,48 persen.

Untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) secara khusus, BPS mencatat penurunan sebesar 0,33 persen.

Penurunan NTN dipengaruhi oleh turunnya It sebesar 0,20 persen, sedangkan Ib justru meningkat 0,13 persen.

Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas hasil penangkapan di perairan umum yang turun 1,25 persen, khususnya gabus atau haruan dan belut.

Harga hasil tangkapan dari perairan laut juga mengalami penurunan 0,03 persen, terutama pada komoditas tongkol dan kakap.

Pembudidaya Ikan Masih Tumbuh

Berbeda dengan nelayan tangkap, pembudidaya ikan justru mencatat perkembangan positif.

Nilai Tukar Budidaya Ikan (NTPi) pada Agustus 2026 meningkat 0,30 persen.

Kenaikan tersebut terjadi karena It naik 0,66 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib yang sebesar 0,36 persen.

Peningkatan harga terutama berasal dari komoditas ikan budidaya air tawar yang naik 1,69 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain ikan patin, nila, serta mas atau karper.

Sementara itu, kelompok budidaya air payau, khususnya bandeng, mengalami penurunan harga sebesar 0,13 persen.

Data tersebut menunjukkan kondisi yang berbeda di sektor peternakan dan perikanan Sumsel pada Agustus 2026. Peternak mendapat dorongan dari kenaikan harga jual, sedangkan nelayan tangkap menghadapi tekanan akibat harga hasil tangkapan yang turun di tengah kenaikan biaya yang harus dibayar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia