Dikritik soal Penanganan Karhutla, Herman Deru Minta Pemerintah Jangan Baper

AKURAT.CO SUMSEL Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta seluruh jajaran pemerintah tidak terbawa perasaan atau baper dalam menghadapi kritik masyarakat terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Deru, kritik dari masyarakat seharusnya dipandang sebagai masukan untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki kinerja pemerintah dalam menangani karhutla dan dampak kabut asap.
Ia mengingatkan agar sikap terbuka terhadap kritik tidak hanya dilakukan pemerintah provinsi, tetapi juga sampai ke tingkat pemerintahan paling bawah.
“Jangan baper ya, Pak RT, RW, Lurah, Camat, Wali Kota, Bupati, Gubernur jangan baper. Kritik masyarakat itu kritik membangun,” kata Deru, Selasa (6/10/2026).
Deru mengatakan kritik publik merupakan bagian dari kontrol masyarakat terhadap pemerintah. Terlebih, persoalan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Sumsel dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Ia menilai masukan dari masyarakat perlu menjadi bahan evaluasi agar upaya pencegahan maupun penanganan karhutla dapat dilakukan lebih baik.
Baca Juga: Jual 300 Semangka Milik Bos Tanpa Izin, Pria di Palembang Diamankan Polisi
Dalam kesempatan tersebut, Deru juga menanggapi informasi mengenai dugaan adanya warga yang meninggal dunia akibat terpapar kabut asap karhutla.
Ia memilih tidak langsung membenarkan maupun membantah dugaan tersebut. Menurutnya, penyebab kematian harus dipastikan melalui pemeriksaan medis.
“Saya tidak mau juga membantah, tapi tidak juga mengiyakan. Karena kalau kita mengatakan penyebab kematian itu harus ada hasil otopsinya,” ujarnya.
Deru menegaskan pemerintah membutuhkan dasar medis sebelum menyimpulkan bahwa seseorang meninggal akibat paparan kabut asap.
Selain dampak kesehatan, Deru juga menyoroti banyaknya titik panas yang terpantau di Sumsel.
Ia meminta masyarakat tidak langsung menyamakan seluruh hotspot yang terdeteksi satelit dengan titik kebakaran.
Menurutnya, sebagian titik panas yang terpantau melalui satelit setelah dicek ke lapangan belum tentu merupakan kebakaran.
“Saya ke lapangan dengan bupati, terbanyak itu hotspot-nya yang bukan fire spot,” katanya.
Deru menjelaskan, hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Sementara fire spot mengacu pada titik yang benar-benar terindikasi mengalami kebakaran.
Karena itu, pemerintah tetap perlu melakukan verifikasi lapangan terhadap titik panas yang terpantau untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Herman Deru Tak Main-Main, Perusahaan Terlibat Karhutla Bakal Dicabut Izinnya
Di tengah kritik masyarakat terhadap penanganan karhutla, Deru menegaskan masukan publik akan menjadi bagian dari evaluasi pemerintah untuk memperbaiki upaya penanganan kebakaran dan dampak kabut asap di Sumsel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









