Sumsel

700 Orang Turun ke Sungai Musi, Wali Kota Palembang Soroti 1.260 Ton Sampah per Hari

Deny Wahyudi | 12 September 2026, 15:46 WIB
700 Orang Turun ke Sungai Musi, Wali Kota Palembang Soroti 1.260 Ton Sampah per Hari
700 Orang Turun ke Sungai Musi, Wali Kota Palembang Soroti 1.260 Ton Sampah per Hari

AKURAT.CO SUMSEL Persoalan sampah di Kota Palembang menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Palembang.

Di tengah produksi sampah yang mencapai sekitar 1.260 ton per hari, ratusan orang turun langsung membersihkan kawasan Sungai Musi, Sabtu (12/9/2026).

Sekitar 700 peserta dari berbagai kalangan terlibat dalam aksi bersih-bersih di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera. Mereka terdiri dari relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga unsur pemerintah.

Wali Kota Palembang H Ratu Dewa turut turun langsung memimpin kegiatan tersebut. Aksi ini merupakan bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi.

Bersama peserta, Ratu Dewa menyusuri bantaran sungai untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari lingkungan.

Menurut Ratu Dewa, Sungai Musi bukan sekadar aliran air, tetapi memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi bagian dari identitas, sejarah dan kehidupan masyarakat Palembang.

Karena itu, menjaga kebersihan sungai, kata dia, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.

"Menjaga kebersihan Sungai Musi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat," ujar Ratu Dewa.

Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Persija Vs Persib di Super League Hari Ini

Ratu Dewa mengungkapkan, persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Palembang.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Kota Palembang mencapai sekitar 1.260 ton setiap hari. Jika dihitung dalam setahun, jumlahnya lebih dari 460 ribu ton.

Pemerintah Kota Palembang pun terus memperkuat sistem pengelolaan sampah. Salah satunya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Namun, keberadaan fasilitas tersebut tidak berarti persoalan sampah selesai.

Ratu Dewa menegaskan, pengurangan sampah tetap harus dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga.

"PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat," tegasnya.

Dia juga mengajak warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik dan mulai memilah sampah dari rumah.

Baca Juga: Besaran Bantuan PIP TK-SMA Berdasarkan Aturan Terbaru 2026

Gerakan bersih Sungai Musi tersebut turut melibatkan The Guardians of The River – ICCN Sumatera Selatan dan Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan.

Hafidz mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai aksi bersih-bersih sesaat.

Menurut dia, konsistensi menjadi kunci agar gerakan menjaga Sungai Musi benar-benar berdampak terhadap perubahan perilaku masyarakat.

"Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan," ujar Hafidz.

Ia menilai keterlibatan mahasiswa, pemuda, komunitas dan masyarakat menjadi modal penting untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga sungai.

Aksi tersebut juga mendapat perhatian aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter, yang dikenal dengan sebutan Bule Sampah.

Benedict ikut turun langsung bersama peserta membersihkan kawasan Sungai Musi. Dia menilai persoalan sampah membutuhkan aksi nyata sekaligus kampanye yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Menurutnya, kegiatan seperti ini perlu didokumentasikan dan disebarluaskan agar pesan menjaga kebersihan sungai semakin dikenal.

"Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran," katanya.

Kegiatan di kawasan 7 Ulu itu menjadi momentum memperkuat kolaborasi pemerintah, komunitas, relawan, mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga Sungai Musi.

Lebih dari sekadar mengangkat sampah, gerakan tersebut diharapkan mendorong perubahan kebiasaan masyarakat agar sungai tidak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
Reporter
Deny Wahyudi
K
Editor
Kurnia