Eks Direktur WHO Jelaskan Penyebab Keracunan MBG, Singgung Soal Bakteri dalam Makanan

AKURAT. CO SUMSEL - Lebih dari seribu orang dilaporkan menjadi korban keracunan akibat makan bergizi gratis (MBG) di kecamatan Cipongkor, kabupaten Bandung Barat dalam sepekan.
Bahkan bupati sampai tetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas kasus ini.
Ternyata, keracunan tersebut disebabkan oleh bakteri.
Baca Juga: Pria 36 Tahun Diamankan Polisi di Palembang Usai Lecehkan Anak Dibawah Umur
Berdasarkan laporan laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat penyebab 1.333 orang mengalami keracunan adalah karena bakteri Salmonella dan Bacillus cereus.
Bakteri tersebut ditemukan dari sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperiksa tim laboratorium.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi menjelaskan, salah satu penyebab utama kontaminasi bakteri tersebut adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian makanan yang terlalu lama.
Baca Juga: Pria 36 Tahun Diamankan Polisi di Palembang Usai Lecehkan Anak Dibawah Umur
Sehingga hal ini memungkinkan bakteri berkembang biak.
Penjelasan Eks Direktur WHO
Sementara itu, eks direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan keterkaitan dua bakteri tersebut sebagai penyebab keracunan makanan.
Baca Juga: Pria Gangguan Jiwa Tewas Dianiaya Oleh Anak dan Bapak di Palembang
Yang pertama, ada bakteri Salmonella yang sering dihubungkan dengan makanan-makanan tinggi protein seperti daging, unggas dan telur.
Sedangkan bakteri Bacillus cereus yang dapat menyebabkan keracunan makanan dihubungkan dengan penyimpanan nasi yang tidak tepat.
Penyebab Umum Keracunan Makanan Menurut WHO
Baca Juga: Sumsel United Takluk di Medan, Coach Nilmaizar Minta Maaf
Di luar temuan dua bakteri di atas, Tjandra menjelaskan jika WHO telah mengidentifikasi sedikitnya ada lima faktor penyebab keracunan makanan yang bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium.
1. Penemuan Salmonela, Campylobacter dan Escherichia coli pada sampel makanan korban keracunan. Selain itu juga dapat ditemukan Listeria dan Vibrio cholerae.
2. Temuan virus yang disebut WHO berjenis Novovirus dan virus Hepatitis A.
Baca Juga: Kebakaran Gambut di OKI Masuki Hari Ketujuh, Belasan Hektare Lahan Masih Terbakar
3. Keberadaan parasit seperti cacing trematoda dan cacing pita seperti Ekinokokus maenia Taenia.
4. Prion, yaitu bahan infeksi yang terdiri dari protein, contohnya adalah Bovine spongiform encephalopathy (BSE).
5. Kemungkinan kontaminasi bahan kimia pada makanan, yakni logam berat seperti timbal, kadmium dan merkuri. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









