Sumsel

Pasokan Pangan Terancam El Nino, Inflasi Sumsel Diprediksi Menguat

Kurnia | 3 September 2026, 21:00 WIB
Pasokan Pangan Terancam El Nino, Inflasi Sumsel Diprediksi Menguat
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Tekanan inflasi di Sumatera Selatan (Sumsel) diperkirakan meningkat pada September 2026.

Risiko tersebut terutama berasal dari potensi terganggunya pasokan pangan akibat kondisi kemarau yang lebih kering serta meningkatnya permintaan setelah aktivitas sekolah kembali normal.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengatakan, komoditas pangan menjadi salah satu sumber tekanan harga yang perlu diwaspadai pada bulan ini.

Menurutnya, fenomena El Nino berpotensi membuat curah hujan berada di bawah normal. Kondisi tersebut dapat mengganggu produksi sejumlah komoditas hortikultura dan akhirnya memengaruhi pasokan serta harga di pasar.

“Tekanan inflasi pada September diprediksi berasal dari komoditas pangan dan emas,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

Selain faktor cuaca, normalisasi kegiatan sekolah juga diperkirakan meningkatkan permintaan sejumlah bahan pangan. Daging ayam ras dan telur ayam ras menjadi komoditas yang mendapat perhatian karena konsumsi berpotensi kembali meningkat.

Baca Juga: Warga Palembang Mulai Kesulitan Cari Beras Premium 5 Kg, Ini Imbauan Pemprov Sumsel

Tekanan juga datang dari komoditas emas. Pergerakan harga emas global diperkirakan masih dapat memberikan pengaruh terhadap harga emas di tingkat domestik.

Inflasi Sumsel Mulai Berbalik Naik

Tekanan harga tersebut terjadi setelah inflasi Sumsel mulai kembali meningkat pada Agustus 2026.

Berdasarkan catatan BI Sumsel, inflasi bulanan pada Agustus mencapai 0,06 persen. Angka tersebut berbalik dari deflasi sebesar 0,24 persen yang terjadi pada Juli 2026.

Secara tahunan, inflasi Sumsel pada Agustus tercatat 2,60 persen, naik dibandingkan 2,50 persen pada bulan sebelumnya.

Daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Agustus dengan andil sebesar 0,33 persen.

Kenaikan harga ayam terjadi ketika permintaan meningkat, sementara produktivitas peternakan disebut belum optimal akibat kondisi cuaca yang panas.

Selain ayam, harga emas perhiasan turut mengalami kenaikan mengikuti perkembangan harga emas dunia.

Harga beras juga meningkat karena pasokan dari petani menurun. Sejumlah komoditas lain seperti kacang panjang dan jagung manis juga mengalami kenaikan harga.

Mengantisipasi potensi kenaikan harga pada September, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel memperkuat langkah pengendalian melalui strategi 4K.

Strategi tersebut mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat.

Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 385 kegiatan telah dilakukan melalui operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Pemerintah daerah juga melakukan inspeksi ke sejumlah pasar untuk memastikan stok tersedia dan harga komoditas tetap sesuai ketentuan.

Dari sisi distribusi, pengamanan pasokan turut dilakukan melalui subsidi biaya angkut. Hingga Agustus, BI Sumsel telah memfasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali dengan total komoditas yang didistribusikan mencapai sekitar 47,92 ton.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan pangan tetap tersedia di daerah yang membutuhkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia