Sumsel

Hujan Abu Vulkanik Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau Sampai Kapan? Ini Penjelasan Para Ahli

Septiyanti Dwi Cahyani | 8 September 2026, 08:00 WIB
Hujan Abu Vulkanik Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau Sampai Kapan? Ini Penjelasan Para Ahli
Ilustrasi, abu vulkanik yang menyebar di jalanan. - AI

AKURAT. CO SUMSEL - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Minggu (6/9/2026) meninggalkan dampak cukup besar.

Tak hanya di Lampung, hujan abu vulkanik turut menyebar hingga beberapa daerah di Pulau Jawa, khususnya Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya, sampai kapan hujan abu vulkanik ini akan berlangsung?

Baca Juga: Hunian Hotel Berbintang di Sumsel Melesat, Juni Capai 55,16 Persen

Penjelasan BMKG

Menjawab pertanyaan tersebut, Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG Achadi Subarkah Raharjo menjelaskan, sebaran abu vulkanik sangat tergantung oleh tiga hal.

Pertama, tinggi kolom erupsi ke udara, disusul arah dan kecepatan angin pada setiap level ketinggian, serta besar partikel yang terlontar ke udara.

Baca Juga: Samsung Galaxy S26 FE Resmi Rilis di Indonesia, Berikut Harga dan Spesifikasinya

Partikel yang berukuran kecil dan terlontar di udara pada lapisan atas yang lebih tinggi, sangat mungkin bertahan berhari-hari di atmosfer.

Persebarannya dapat lebih jauh apabila kecepatan angin pada ketinggian tersebut bertiup kencang.

Menurut Aat, persebaran abu vulkanik ke arah timur Gunung Anak Krakatau berdasarkan model sudah mendekati ruang udara Jawa Tengah.

Baca Juga: Balap Liar hingga Knalpot Brong Diburu, 102 Kendaraan Ditilang di Palembang

Namun demikian, partikel yang jatuh sampai ke darat terkonfirmasi melalui paper test di Bandara Kertajati masih negatif.

Saat ditanya apakah hujan abu vulkanik akan berlangsung lama, Aat memberi jawaban diplomatis.

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama 25 jam sebelumnya menyebabkan konsentrasi partikel di atmosfer terus bertambah.

Baca Juga: Molor dari Target, Herman Deru Desak Jembatan P6 Lalan Tersambung Januari 2027

Ia pun menegaskan bahwa pihaknya juga berharap erupsi segera berhenti dan persebaran atmosfer segera dipercepat turunnya ke darat oleh hujan atau menjauh dari wilayah yang berdampak pada masyarakat dan sektor lainnya.

Penjelasan BRIN

Di sisi lain, analisis Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin memberi jawaban yang berbeda.

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi di Pagar Alam, Bandara Sempat Tutup

Menurut Erma, sebaran abu vulkanik yang dihasilkan letusan utama Gunung Api Anak Krakatau umumnya akan memuntahkan material sulfur di atmosfer selama 5 hari jika tidak disertai hujan sama sekali.

Penjelasan IABI

Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender.

Baca Juga: Minta Diantar Naik Motor, Pria di Palembang Malah Bawa Kabur Honda BeAT

Ia menekankan bahwa letusan baru akan benar-benar berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali.

Lebih lanjut, Daryono mengatakan pasokan magma baru akan berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaganya.

Tanpa dorongan kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.