5 Update Terbaru Erupsi Gunung Anak Krakatau 7 September 2026

AKURAT. CO SUMSEL - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Minggu, 6 September 2026 membawa dampak cukup signifikan.
Sejumlah bandara dilaporkan tutup, penerbangan lumpuh.
Semburan abu vulkanik juga menyebar hingga beberapa daerah di Pulau Jawa, khususnya wilayah Jabodetabek.
Baca Juga: Tiga Rumah Semi Permanen di Ilir Barat II Palembang Terbakar, Diduga Akibat Korsleting
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun diterapkan di wilayah-wilayah terdampak demi menjaga keselamatan siswa.
Berikut rangkuman update terbaru erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Senin, 7 September 2026.
1. Erupsi Menerus Berakhir Setelah 25 Jam
Episode erupsi menerus yang sempat terjadi selama sekitar 25 jam dan kini kembali ke pola erupsi strombolian.
Baca Juga: Cek Update Harga Emas Perhiasan Palembang Senin 7 September 2026
Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
"Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," kata Badan Geologi lewat akun Threads @badan.geologi, Senin (7/9/2026).
Letusan strombolian adalah jenis letusan gunung berapi dengan ledakan yang relatif ringan.
Baca Juga: Kinerja Asuransi Umum Tertekan, Laba Semester I 2026 Turun 32,3 Persen
Aktivitas letusan stromboli dapat berlangsung sangat lama, sehingga sistem erupsi dapat berulang kali mengatur ulang dirinya sendiri.
Badan Geologi menjelaskan, kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunung Api Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang.
2. Masih Berstatus Level III (Siaga)
Kendati aktivitas erupsi mulai menurun, statua Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga).
Baca Juga: Penerbangan Palembang-Jakarta Dibatalkan Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau
3. Dampak Sebaran Abu Vulkanik
Abu vulkanik sempat berdampak pada penutupan sementara sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Sumatra akibat sebaran debu di atmosfer, namun kondisi penyeberangan Selat Sunda dipastikan tetap aman oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Perhubungan dan InJourney Airports, penutupan operasional penerbangan diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB. Beberapa bandara utama dan regional yang terdampak meliputi:
Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan Saat Kabut Asap, Jangan Abaikan Kondisi Udara
Bandara Soekarno-Hatta (Banten)
Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta)
Bandara Radin Inten II (Lampung)
Bandara Budiarto (Curug, Banten)
Bandara Pondok Cabe (Banten)
Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (Lampung)
Bandara Husein Sastranegara (Jawa Barat).
Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan Saat Kabut Asap, Jangan Abaikan Kondisi Udara
Selain penutupan di atas, sejumlah penerbangan di bandara lain seperti Bandara Juanda juga sempat mengalami pembatalan akibat rute atau dampak sebaran abu.
Penumpang diimbau untuk terus memantau status penerbangan langsung dengan pihak maskapai.
4. Potensi Ancaman Berbahaya
Baca Juga: 5 Cara Membersihkan Rumah Saat Banyak Debu agar Tetap Bersih dan Nyaman
Badan Geologi terus memantau perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Badan Geologi menyatakan masih ada kemungkinan besar terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya.
"Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," urainya.
Baca Juga: 5 Cara Membersihkan Rumah Saat Banyak Debu agar Tetap Bersih dan Nyaman
5. Imbauan kepada Masyarakat
Badan Geologi mengimbau masyarakat menjaga jarak radius 3 kilometer (km) dari Gunung Anak Krakatau hingga mengurangi aktivitas luar ruangan. Berikut rekomendasinya:
Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Masyarakat yang terdampak abu vulkanik hasil erupsi Gunungapi Anak Krakatau direkomendasikan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas untuk menghindari gangguan pernafasan.
Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
Baca Juga: Daftar 7 Gunung di Indonesia yang Sedang Erupsi Saat Ini
6. Pusat Informasi Kebencanaan
Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat)
Pos Pengamatan Gunung Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten). (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








