Sumsel

Jangan Terkecoh Kabut Saat Mendaki, Bisa Jadi Asap Karhutla: Ini 4 Cara Membedakannya

Kurnia | 4 September 2026, 11:00 WIB
Jangan Terkecoh Kabut Saat Mendaki, Bisa Jadi Asap Karhutla: Ini 4 Cara Membedakannya
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Pemandangan pegunungan yang diselimuti putih sering menjadi daya tarik tersendiri bagi pendaki dan pencinta alam.

Namun, di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), lapisan yang terlihat seperti kabut belum tentu berasal dari fenomena alam.

Asap akibat karhutla dapat menyebar mengikuti arah angin dan membuat jarak pandang di kawasan pegunungan tampak berkabut.

Jika tidak mengenalinya, pendaki bisa saja tetap melanjutkan perjalanan ketika kualitas udara sebenarnya sedang tidak baik.

Karena itu, penting mengetahui perbedaan antara kabut alami dan asap karhutla sebelum memutuskan melanjutkan aktivitas di alam terbuka.

Baca Juga: 21 Konsesi Perusahaan Terbakar di Sumsel, Pemprov Buka Peluang Sanksi hingga Cabut Izin

Berikut empat tanda yang bisa diperhatikan.

1. Cium aromanya

Cara paling mudah mengenali asap karhutla adalah memperhatikan bau di sekitar.

Asap dari pembakaran hutan dan lahan biasanya membawa aroma khas seperti kayu terbakar atau bau sangit. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat membuat tenggorokan terasa tidak nyaman.

Sementara itu, kabut alami pada dasarnya merupakan kumpulan titik air di udara. Kabut tidak memiliki aroma gosong atau bau menyengat seperti asap hasil pembakaran.

2. Perhatikan sensasi udara di kulit

Kabut di kawasan pegunungan biasanya hadir bersama udara yang dingin dan lembap. Ketika menyentuh kulit, udara terasa sejuk dan terkadang membuat tubuh sedikit basah.

Kondisi berbeda dapat dirasakan ketika udara dipenuhi asap karhutla. Cuaca bisa terasa lebih panas, kering, dan membuat tubuh tidak nyaman. Kondisi tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa lapisan putih yang terlihat belum tentu kabut alami.

3. Lihat warna dan ketebalannya

Warna juga dapat menjadi petunjuk.

Kabut alami umumnya terlihat putih dan relatif transparan. Ketebalannya dapat berbeda-beda, tetapi kabut sering berangsur menipis ketika kondisi udara berubah dan matahari mulai menghangatkan permukaan.

Asap karhutla cenderung memiliki warna yang lebih keruh, seperti abu-abu atau kekuningan. Dalam kondisi tertentu, asap yang pekat juga dapat membuat pandangan terlihat kusam dan jarak pandang berkurang.

Namun, warna saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya. Kondisi cuaca, lokasi, serta tingkat kepadatan asap juga perlu diperhatikan.

4. Cek kualitas udara sebelum melanjutkan perjalanan

Jika masih ragu, jangan hanya mengandalkan penglihatan. Pendaki dapat memeriksa kualitas udara melalui aplikasi pemantau kualitas udara, seperti IQAir.

Informasi mengenai indeks kualitas udara dapat membantu memberikan gambaran apakah udara di suatu lokasi masih tergolong baik atau sudah mengalami pencemaran.

Semakin buruk indeks kualitas udara, semakin besar alasan untuk berhati-hati, terutama bagi pendaki yang harus melakukan aktivitas fisik cukup berat.

Bagi pendaki maupun wisatawan yang sedang berada di kawasan alam, mengenali kondisi udara bukan sekadar soal kenyamanan. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum memutuskan melanjutkan aktivitas di luar ruangan.

Baca Juga: Herman Deru Serahkan Kebijakan Belajar di Tengah Kabut Asap kepada Sekolah

Jika udara mulai berbau asap, jarak pandang menurun, atau kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat, sebaiknya pertimbangkan untuk menghentikan aktivitas dan mencari lokasi yang lebih aman.

Jangan sampai pemandangan berkabut yang terlihat indah justru menjadi tanda bahwa udara di sekitar sedang tidak aman untuk dihirup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia